Saturday, February 4, 2017

Cabang-Cabang Seni Rupa, Kegiatan Apresiasi Karya Seni Rupa

Keindahan dalam seni rupa adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni rupa, baik yang dwimatra maupun yang trimatra. Sedangkan media dalam pembuatan seni rupa sangat bervariasi. Keragaman dalam penggunaan media ini menyebabkan munculnya berbagai jenis karya seni rupa. Pada bab ini, kamu akan mempelajari bentuk dan fungsi karya seni rupa, cabang-cabang seni rupa, dan kegiatan apresiasi terhadap karya seni rupa, khususnya seni terapan yang ada di daerahmu dan di Nusantara.

Bentuk dan Fungsi Karya Seni Rupa 

Berdasarkan bentuknya, karya seni rupa terbagi atas seni rupa dua dimensi (dwimatra) dan tiga dimensi (trimatra). Ciri seni rupa dua dimensi hanya dapat dinikmati dari satu arah, karena hanya memiliki ukuran panjang dan lebar, misalnya lukisan, kain batik, seni fotografi, dan sebagainya. Sedangkan seni rupa tiga dimensi dapat dilihat atau dinikmati dari berbagai arah, karena memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi, misalnya patimg, meja, kursi, dan sebagainya. Berdasarkan fungsinya, karya seni rupa dapat digolong-kan menjadi dua, yaitu sebagai seni pakai (applied art) dan seni yang berfungsi sebagai hiasan saja (fine art).

Cabang-Cabang Seni Rupa

Setiap jenis karya seni rupa memiliki bentuk dan ciri khusus. 
Menurut cirinya, karya seni rupa dapat dibagi dalam beberapa cabang, yaitu sebagai berikut. 
     Cabang-Cabang Seni Rupa
  1. Seni patung. Seni patung merupakan perwujudan ekspresi dan gagasan ke dalam karya tiga dimensi. Kemajuan seni patung di Indonesia ditandai sejak zaman Hindu-Buddha yang diwujudkan dalam bentuk arca dan relief dari batu. Patimg yang berukuran besar sering diwujudkan sebagai monumen, misalnya patung Garuda Wisnu Kencana di Bali, patung Selamat Datang di Jakarta, dan patung-patung bertema perjuangan yang tersebar di wilayah tanah air. Seni patung dalam ukuran kecil umumnya terdapat pada benda-benda kerajinan yang kebanyakan berbahan kayu, batu marmer, dan fiber. 
  2. Seni lukis. Seni lukis berwujud dua dimensi. Seni lukis biasanya dibuat di atas media kain kanvas, kertas, dan kaca. Peralatan yang digunakan untuk menggambar atau melukis dapat berupa cat minyak (acrylic), cat air, cat poster, dan sebagainya. Gaya penggambaran dalam melukis juga sangat beragam, yang dinamakan aliran. Aliran atau corak dalam seni lukis ini merupakan ciri khas dan keunikan yang terdapat pada karya-karya tersebut. Ada aliran realis, naturalis, ekspresionis, impresionis, abstrak, surealis, maupun romantis. Sejarah seni lukis di Indonesia dipenuhi para pelukis handal seperti Raden Saleh (perintis seni lukis Indonesia, yang hidup pada zaman perang Diponegoro), S. Sudjojono, Henk Ngantung, Affandi, Basoeki Abdullah, Pimgadi, dan masih banyak lagi.
     Seni Lukis yang Mengisahkan Pahlawan Diponegoro
     
  3. Seni grafis.  Seni grafis adalah seni membuat gambar dengan alat cetak (klise). Misalnya, sablon (cetak saring), cukil kayu (cetakan), etsa (pengasahan pada bahan metal), dan percetakan dengan bahan batu litho. 
  4. Seni kriya Seni kriya berwujud dua atau tiga dimensi. Seni kriya sering disebut sebagai seni kerajinan, yaitu seni yang dibuat untuk menyajikan kebutuhan hidup sehari-hari. Tumbuh suburnya seni kriya di tanah air erat kaitannya dengan nilai komersial. Setiap pengrajin akan membuat beberapa benda pada setiap jenis seni kriya yang dibuatnya. Termasuk dalam golongan seni kriya, antara lain seni pahat, seni anyam, keramik, batik, dan tenun. 
  5. Seni desain Desain dalam pengertian yang sebenarnya adalah suatu gambar rancangan. Namun  pengertian seni desain di sini penekanannya ialah pada produk yang dihasilkan. Sejalan dengan perkembangan industrialisasi, seni desain telah dianggap sebagai cabang seni tersendiri dalam seni rupa, karena proses, teknik, dan bentuknya yang juga memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan perkembangan teknologi modem. Seni desain terbagi dalam beberapa cabang, namun ada dua kelompok seni desain yang sudah populer, yaitu sebagai berikut.
  • Desain Komunikasi Visual (Graphic Design/Sequential Art) Perwujudan dari desain komunikasi visual mengarah ke desain grafis, seperti poster iklan, brosur, sampul buku atau majalah, kemasan, logo, undangan, dan lain-lain. 
  • Desain Produk (Product Design) Desain produk berwujud peralatan dan benda kebutuhan sehari-hari. Misalnya, perlengkapan rumah tangga, alat transportasi, pakaian, perumahan, peralatan elektronik, dan sebagainya.

Kegiatan Apresiasi Karya Seni Rupa

Apresiasi memiliki arti penting, baik bagi pencipta karya seni maupun bagi pengguna karya seni. Apresiasi merupakan sarana penghubung di antara keduanya. Pencipta karya seni dalam hal ini adalah seniman, desainer, atau pengrajin yang telah memvisualisasikan ide-ide kreatifnya. Sedangkan pengguna karya seni adalah penikmat atau masyarakat. Arti kata apresiasi sendiri adalah suatu penghargaan (iappreciate). Dengan demikian, jika masyarakat memiliki apresiasi yang tinggi terhadap suatu karya seni maka hal itu ibarat lahan yang subur untuk tumbuh dan berkembangnya karya-karya kreatif berikutnya. 
Bentuk apresiasi Kegiatan apresiasi terhadap karya seni rupa dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung atau tidak langsung. 
  • Apresiasi secara langsung Proses apresiasi secara langsung dilakukan apabila pengamat berhadapan langsung dengan wujud karya seni yang diapresiasi. Dalam hal ini, pengamat dapat  menilai dengan jelas bentuk, warna, tekstur, dan unsur- unsur lainnya. Pengamatan langsung dapat dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat pusat kerajinan, ke museum, galeri, dan lain-lain. 
  • Apresiasi secara tidak langsung Proses apresiasi secara tidak langsung dilakukan melalui bantuan media tertentu. Misalnya, dari buku, foto reproduksi, media cetak, media elektronik, dan lain-lain. Apresiasi secara tidak langsung ini memang dapat dilakukan di sembarang tempat. Namun pengamatan terhadap objek karya tidak didapatkan dengan peng-hayatan secara mendalam. 
Tahapan dalam proses apresiasi
Untuk melakukan kegiatan apresiasi, setidaknya perlu diketahui bentuk dan tahapan dalam proses apresiasi, yaitu sebagai berikut. 
  • Pengamatan terhadap objek karya Kegiatan apresiasi diawali dengan pengamatan terhadap objek karya. Dalam hal ini, pengamat berhadapan dengan karya yang diapresiasi, misalnya patung, karya batik, wayang, karya kerajinan, dan sebagainya. 
  • Pemahaman atau penghayatan terhadap karya seni Tahap kedua adalah upaya memahami atau meng¬hayati karya seni tersebut. Melalui pemahaman atau penghayatan tersebut, pengamat telah melakukan usaha untuk mengetahui lebih jauh tentang unsur-unsur rupa serta keunikan lainnya yang terdapat pada objek karya. 
  • Penilaian dan penghargaan (apresiasi) Pada tahap ini, dilakukan pengambilan keputusan tentang seberapa bernilai atau berharganya suatu karya. Penilaian tersebut tentunya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang objektif.
Readmore → Cabang-Cabang Seni Rupa, Kegiatan Apresiasi Karya Seni Rupa

Jenis-jenis Kain Tenun Nusantara

Berekspresi Melalui Karya Seni Rupa

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan karya tekstil, salah satunya adalah karya seni tradisional tenun ikat dan songket. Semenjak zaman batu prasejarah nenek moyang kita sudah mengenal teknik dalam berkarya seni terutama teknik grafisnya. Melihat hasil karya dari nenek moyang kita yang sudah dari dulu berkreatif, bagaimana dengan kita yang sekarang ini sudah memiliki perangkat yang lebih lengkap dan canggih. Tentu anda punya kesempatan yang banyak untuk berkarya lebih kreatif. Dengan adanya hasil karya Anda, maka dapat mengemasnya dengan sedemikian rupa sehingga bisa dipamerkan dalam kegiatan pameran sekolah ataupun pameran yang diselenggarakan oleh para pencinta seni. Untuk itu Anda bisa belajar tentang tenun dan grafis sekaligus cara membuatnya, serta tata cara melakukan kegiatan pameran di kelas atau sekolah.

Kain Tenun Nusantara

Semenjak zaman kebudayaan Dongson prasejarah karya tenun sudah terbentuk. Dengan proses waktu yang panjang karya tenun berikut dengan segala macam teknik serta corak hiasannya sudah mengalami perkembangan sehingga terciptalah sebuah karya tekstil yang bernilai seni yang tinggi sehingga dapat menjadi sumber ekonomi bagi para pembuatnya.

Jenis-jenis kain tenun

Dalam hal kain tenu terdapat dua jenis,  yaitu tenun ikat dan tenun songket. Yang membedakannya adalah bahan yang digunakan dan teknik pembuatannya.
 Kain Tenun ulap doyo dan Kain Songket Sutra
  1. Tenun ikat. Adalah kain tenun yang proses pembentukan ragam hiasnya dibuat dengan cara mengikat bagian-bagian benangnya. Sejarah pembuatan tenun Nusantara diawali dengan adanya tenun ikat lungsi yang sudah ada sejak zaman prasejarah. Tenun ikat lungsi adalah tenun yang teknik pembentukan ragam hiasnya dibuat dengan cara mengikat benang lungsinya, yaitu benang yang vertikal. Persebaran tenun ikat lungsi, antara lain di Toraja, Sulawesi Selatan, Minahasa (Sulawesi Utara), Batak (Sumatra Utara), Sumba (NTT), Flores, dan di pedalaman Kalimantan. Pada perkembangan selanjutnya, dikenal pula pembuatan tenun dengan teknik ikat pakan (jalur horizontal). Bahan-bahan yang digunakan dalam tenun ikat adalah benang kapas, dapat juga menggunakan benang sutra alam, seperti pada tenun ikat Nusapenida (Bali) dan Padang. Tenun ikat ini oleh sebagian masyarakat lebih dikenal dengan sebutan kain ulos.
  2. Tenun songket. Tenun songket atau populer dengan sebutan kain songket adalah jenis kain tenun yang penciptaannya dimulai setelah adanya tenun ikat. Teknik pembuatan tenun songket sebenarnya sudah ada sejak zaman prasejarah dengan adanya teknik pakan tambahan dan lungsi tambahan. Namun kain songket yang menggunakan benang emas, benang perak, atau benang sutra mulai diterapkan semenjak adanya hubungan perdagangan kerajaan di Sumatera dengan orang-orang asing terutama dari Cina. Benang sutra yang didapatkan dari luar diterapkan dalam kain tenun yang kemudian dikenal dengan sebutan kain songket. Kain songket adalah kain tenun yang dibuat melalui suatu teknik memberikan benang tambahan berupa benang emas, benang perak, atau benang sutra dengan cara dicukit atau disongket. Pembentukan corak pada tenunan sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan yang digunakan, yang membentuk desain itu sendiri. Ada desain benang sutra yang ditempatkan di atas dasar benang kapas. Ada desain yang terbentuk dari jenis benang yang sama, misalnya dari sesama benang kapas atau sesama benang sutra, atau dari jenis benang lainnya. Daerah-daerah tertentu di Indonesia yang menjadi awal pembuatan songket, antara lain Palembang (Sumsel), Donggala (Sulteng), Bugis (Sulsel), dan Bali.
Readmore → Jenis-jenis Kain Tenun Nusantara

Pengertian Bahan Tekstil, Klasifikasi Rancangan Tekstil, Meggambar Ornamen

PENGERTIAN BAHAN TEKSTIL


 Pengertian Bahan TekstilIstilah tekstil memiliki cakupan cukup luas karena jenisnya yang sangat beragam. Kain pada umumnya dibuat dari serat yang dipintal sehingga menghasilkan benang panjang untuk ditenun atau dirajut. Jenis proses pembuatan kain antara lain dengan cara ditenun, diikat, dan dipres.

Perkembangan teknologi pembuatan kain juga diikuti perkembangan jenis bahan baku yang dapat dikerjakan. Satuan yang terkecil dari bahan adalah serat. Serat (fiber) adalah sel atau jaringan serupa benang atau pita panjang yang berasal dari hewan atau tumbuhan (ulat, batang pisang, daun nanas, kulit kayu, dan sebagainya) yang digunakan untuk membuat kertas, tekstil, dan sikat. Serat yang mudah kita jumpai adalah serat pada kain. Sesuai dengan asal serat, serat tekstil dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu serat alami dan serat sintetis (serat buatan manusia).

a.Serat Alami Serat alami adalah serat yang diperoleh dari tumbuhan atau hewan dengan proses  geologis. Contohnya, serat sebagai bahan pembuat kertas dan tekstil yang berasal dari laba-laba (sutra) atau bulu domba (wol).
b.Serat sintetis atau buatan. Serat buatan adalah serat yang berasal dari buatan manusia yang umumnya berasal dari bahan petrokimia. Serat buatan ini merupakan polimer-polimer buatan yang disusun dengan cara kopolimerasi senyawa-senyawa kimia yang relatif sederhana, yang menghasilkan serat (fiber), seperti nilon, perlon, dakron, teriline, trivera, terlenka, tetoron, prinsip, bellini, laceri, larici, orion, cashmilon, silk, dan caterina.

KLASIFIKASI RANCANGAN TEKSTIL


Rancangan tekstil memiliki jenis yang sangat beragam. Oleh karena itu, kalian perlu memahami terlebih dahulu cakupan berbagai jenis kain yang dibuat dengan cara ditenun, diikat, dipres, dan berbagai cara lain yang banyak dilakukan dalam pembuatan kain. Kain pada umumnya dibuat dari benang atau serat yang ditenun atau dirajut dengan tujuan menghasilkan barang yang biasanya memiliki bentuk memanjang. Kualitas pada kain sangat ditentukan oleh jumlah serat, jenis atau tektur serat, variasi dalam tenunan, dan rajutan. Proses perancangan karya tekstil dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.Perancangan berdasarkan struktur dilaksanakan pada waktu pembuatan kain, contohnya anyaman tenun, jeratan, atau jalinan renda.
b.Perancangan berdasarkan permukaan dilaksanakan setelah pembuatan kain selesai, contohnya adalah batik, printing, sulaman, bordir, atau songket.
c.Perancangan penerapan hasil tekstil yang dilaksanakan setelah kain telah berupa pakaian, contohnya pada tekstil kebutuhan rumah tangga.

ORNAMEN

Pengertian ornamen adalah hiasan dalam arsitektur atau kerajinan tangan, yang pada penjelasan untuk bab ini adalah menghias kain yang bertujuan untuk memberi nilai tambah pada kain agar lebih bagus dan menarik. Selain itu, ornamen juga memiliki nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan (falsafah) hidup dari masyarakat pembuatnya sehingga benda-benda yang dihias dapat memiliki arti dan makna yang mendalam.

 Ornamen Tekstil

aMenggambar Ornamen Primitif. Ornamen primitif merupakan karya seni yang diciptakan pada zaman purba atau primitif. Ornamen ini memiliki ciri sederhana, tegas, dan kaku yang merupakan ekspresi manusia pada saat itu. Ornamen primitif yang berkembang sejak zaman prasejarah merupakan pencerminan tingkat kehidupan manusia pada zamannya.
b.





Menggambar Ornamen Tradisional dan Klasik. Ornamen tradisional dan klasik merupakan seni hias yang dalam pengungkapannya menurut norma atau aturan-aturan masyarakat. Seni hias ini diwariskan secara turun temurun sehingga nilai-nilai masyarakat selalu dijunjung tinggi, baik dalam teknik maupun proses pembuatannya. Perkembangan ornamen tradisional mendapat pengaruh dari perkembangan pola hidup masyarakatnya sehingga keragaman ini memiliki ciri khas pada masing-masing daerah. Beberapa ciri khas ornamen tradisional, antara  lain:


a.keseragaman dari masing-masing corak (homogen);

b.kemiripan antara daerah yang satu dengan daerah lainya;

c.karya kolektif (dari beberapa motif membentuk satu kesatuan yang utuh sebagai motif daerah tertentu);

d.sederhana. 
Ciri khas tersebut bisa diterapkan pada bidang dua maupun tiga dimensi yang memiliki fungsi sebagai elemen dekorasi. Beberapa jenis ornamen tradisional dengan bentuk geometris yang sampai sekarang masih dipakai untuk motif kain adalah truntum, parang, dan kawung.

Menggambar Ornamen Modern

Ornamen modern berkembang dari pembaharuan pola-pola yang sudah ada sebelumnya atau seni yang penggarapannya didasarkan pada cita rasa baru, kreatif, dan merupakan sebuah penemuan baru. Ornamen modern merupakan seni yang bersifat kreatif, tidak terbatas pada objek-objek tertentu, waktu, dan tempat melainkan ditentukan oleh cita rasa dan pengalaman batin penciptannya. Ciri-ciri ornamen modern adalah:
arasional (masuk akal);
b.kompetitif (selalu mencipta dan bersaing dalam proses kreatif);
c.ekologis berkesinambungan (terjadi perubahan dalam proses);
d.rumit;
e.progresif (bebas tidak terkait dengan aturan-aturan tertentu);
f.individual (sangat personal menurut penciptanya).

JENIS DAN BAHAN PEWARNA

Pewarna tekstil terdiri atas dua jenis, antara lain pewarna alami dan pewarna buatan. Proses pewarnaan ini dapat dilakukan dengan pengecapan atau printing, dan ada juga pewarnaan tekstil yang dilakukan dengan cara celupan, coletan, atau kuasan.

Semua pewarna tekstil dapat digunakan untuk pengecapan, hanya saja perekatan di dalam serat berbeda-beda. Pewarna tekstil yang mudah didapatkan adalah pewarna yang bahan dasarnya berasal dari pigmen. Perajin atau industri yang banyak menggunakan pewarna ini adalah tekstil printing atau sablon.

Sebelum pewarna sintetis masuk ke Indonesia, pewarna tekstil menggunakan bahan dari tumbuh-tumbuhan, di antaranya adalah kulit pohon tingi, kulit pohon jambal, dan kulit pohon tegeran. Bahan-bahan tersebut kemudian akan menghasilkan warna sebagai berikut:
No.
Warna
Keterangan
1.
HitamDihasilkan dari indigo yang ditumpangi soga atau tingi
2.
Biru tuaDihasilkan dari daun nila
3.
Cokelat atau sogaDihasilkan kulit pohon jambal, kulit pohon tegeran, kulit pohon tingi
4.
UnguDihasilkan dari indigo ditumpangi soga
5.
KuningDihasilkan campuran kunyit, cuka, pohon tegeran, tawas, dan jeruk
6.
HijauDihasilkan biru indigo ditumpangi kunyit
7.
Merah tuaDihasilkan dari pohon mengkudu
Namun, karena warna alami memiliki keterbatasan jumlah, maka dimulailah pembuatan warna sintetis yang memiliki ragam warna lebih banyak. Pewarna sintetis merupakan zat yang berasal dari zat kimia. Proses pembuatan warna sintetis biasanya melalui penambahan asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun sehingga berbahaya jika masuk ke dalam tubuh. Berikut adalah beberapa macam warna sintetis:

Naptol

Pewarna ini kebanyakan digunakan untuk pewarna kain batik karena memiliki daya serap yang baik pada kain katun. Jenis pewarna ini baik untuk pencelupan dalam kondisi dingin. Komponen zat pewarna naptol terdiri atas dua jenis, yaitu naptol dan garam atau diazonium.
No.
Naptol
Diazonium (Garam)
1.
Naptol ASBiru B
2.
Naptol ASDBiru BB
3.
Naptol ASGHitam B
4.
Naptol ASDLViolet B
5.
Naptol ASBOMerah GG
6.
Naptol ASGRMerah R
7.
Naptol ASLB biasaMerah 3GL
8.
Naptol ASLB ekstraMerah 3 GL spesial
9.

Jingga GG
10.

Jingga GL
11.

Kuning GG
12.

Biru Hijau B
Keterangan: sebagai pembangkitnya adalah soda costik atau TRO (turkish red oil) yang memudahkan naptol larut dalam air.

Indigosol

Perwarna ini adalah pewarna tekstil yang jenis warnanya sangat bervariasi, larut dalam air, dan memiliki ketahanan warna yang baik. Pemakaian indigosol untuk pewarna tekstil bisa dilakukan dengan coletan atau celupan.
No.
Jenis
Keterangan 
1.
Indigosol cokelat IRRG
2.
Indigosol kuning FGK
3.
Indigosol kuning IGK
4.
Indigosol hijau IB
5.
Indigosol hijau 13G
6.
Indigosol violet BF
7.
Indigosol jingga HRsa
8.
Indigosol merah AB
9.
Indigosol abu-abu IBL
10.
Indigosol biru 048
11.
Indigosol biru 068



Procion

Pewarna ini tergolong pewarna reaktif. Untuk melarutkannya, procion ditambah dengan air dingin, soda abu, garam dapur, malesil, dan lisapol. Jenis procion, antara lain sebagai berikut.
No.
Jenis
Keterangan
1.
Procion merah MX2B, MX5B, MX8B
2.
Procion biru MX2G dan MXG
3.
Procion jingga MX 2R
4.
Procion cokelat MXBR
5.
Procion MX 6 G P dan MX4R

Rapid

Rapid dalam proses pembatikan jarang digunakan, khususnya untuk celupan karena sulit untuk merata. Rapid kebanyakan digunakan untuk coletan pada gambar atau bidang yang tidak terlalu luas. Ketahanan rapid kurang baik sehingga mudah luntur, sehingga jenis pewarna ini jarang digunakan.
No.
Jenis
Keterangan
1.
Rapid jingga RH
2.
Rapid biru BN
3.
Rapid hitam G
4.
Rapid hijau N-16G
5.
Rapid kuning 6 CH

TEKNIK BERKARYA 

Teknik berkarya berdasarkan permukaan dilaksanakan setelah pembuatan kain, artinya mengubah atau menambah motif sehingga kain akan memiliki nilai tambah. Pada teknik berkarya kali ini, kalian berlatih menerapkan motif atau ragam hias pada media tekstil dengan cara menggambar. Sementara itu, media yang digunakan adalah kaos, cat tekstil, papan alas, dan kuas. Berikut adalah langkah-langkahnya: 
1.siapkan kaos berwarna putih; 
2.berilah alas permukaan kaos dengan menggunakan papan yang telah disediakan; 
3.buatlah sketsa pada permukaan kaos, kemudian kuaskan cat berwarna gelap untuk mendapatkan outline gambar;
4.warnailah dengan rapi.
Readmore → Pengertian Bahan Tekstil, Klasifikasi Rancangan Tekstil, Meggambar Ornamen

Ragam Hias dari Bahan Kayu

Menerapkan Ragam Hias dari Bahan Kayu

Kegiatan Mengamati

1.Amatilah bentuk-bentuk ukiran kayu yang ada di sekitar Anda. Jika anda tidak menemukan ukiran tersebut, amatilah gambar-gambar ukiran kayu berikut.

Jenis Ukiran Dari Kayu
2.Kenalilah ragam bentuk dan corak pada ukiran kayu tersebut.

Kegiatan Menanya

Setelah mengamati ukiran kayu tersebut, rumuskanlah pertanyaan terkait hal-hal yang kamu amati. Lihatlah pertanyaan nomor 1 sebagai contoh.
1. Jenis ragam hias apa saja yang terdapat pada bahan kayu?
2. ____________________________________________________________________
3. ____________________________________________________________________
4. ____________________________________________________________________
5. Dan seterusnya.
Kemudian, jawablah pertanyaan-pertanyaan yang telah anda rumuskan tersebut. Anda dapat menjawabnya sendiri atau dengan bantuan teman atau guru.

BAHAN KAYU

Indonesia merupakan negara yang mempunyai hutan yang luas lebih kurang ada 4000 jenis pohon berkayu yang menyebar di seluruh Nusantara. Namun, dari jumlah tersebut belum semuanya dimanfaatkan untuk kerajinan, baru sebagian kecil saja yang lumrah digunakan untuk bahan baku sebagai kerajinan. Kau merupakan bahan baku yang sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pembuatan suatu karya. Sebagai media untuk aplikasi ragam hias, kayu sangat
memegang peranan yang penting dalam pengerjaan menggambar atau memahat ragam hias. Seiring dengan perkembangannya, penggunaan Jenis kayu untuk dipahat perlu disesuaikan dengan sifat serta warna kayu yang diharapkan tampilan hasilnya sesuai dengan rancangan. Jenis-jenis kayu yang biasa digunakan untuk pembuatan produk yang memiliki unsur hias, antara lain sebagai berikut.

No.
Jenis
Keterangan
1.
Kayu sono kembang (Pterocarpus indies)
Kayu ini banyak tumbuh dan berkembang di daerah Sumatera, Jawa, dan Maluku. Sifatnya lebih lunak dibandingkan dengan kayu sono keling, digunakan untuk pembuatan mebel kayu dan suvenir, warnanya muda dan mengarah pada warna merah sampai ungu.
2.
Kayu sono keling (,Dalbergia latifolia)
Kayu ini banyak tumbuh dan berkembang di daerah Sumatera, Jawa, dan Maluku. Kayu sono keling banyak digunakan untuk pembuatan perabot rumah tangga (mebel) karena dari sifatnya yang mudah dibentuk dan diukir. Warna kayu merah gelap dan mempunyai garis-garis hitam di atas permukaannya yang halus dengan arah serat lurus dan kadang berombak.
3.
Kayu jati (Tectona grandis)
Struktur kayu ini kuat dan tidak mudah retak, serta mudah untuk dibentuk dan diukir. Selain itu, cocok untuk pembuatan interior rumah dan mebel. Pohon yang banyak tumbuh di daerah Jawa, Sulawesi, dan Sumatera ini mempunyai sifat yang berbeda-beda sesuai daerah geografisnya. Kayu jati mempunyai banyak kelebihan dibanding dengan kayu-kayu lain, baik dari strukturnya yang kuat, keindahan seratnya sangat bagus, mudah untuk diolah menjadi produk apa pun, terutama mebel sampai pada relief ukir kayu dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Kayu ini memiliki warna cokelat kekuningan. Berdasarkan seratnya, kayu jati dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis.
  • Jati Sejati: warna cokelat keputihan hingga cokelat tua, kadang-kadang mengandung unsur ungu, merah, dan hitam.
  • Jati Kapur: seratnya mengandung bintik-bintik putih yang mengandung kapur.
  • Jati "Ri" (duri): memiliki banyak bintik-bintik mata kayu.
  • Jati Gembol: serat kayu berkelok-kelok membentuk pola tutul. Warnanya kecokelatan dan hitam.
4.
Kayu mahoni (Sweetenia mahogany)
Serat kayu padat, pola urat lembut, warna berkisar dari cokelat kekuningan hingga cokelat tua kemerahan. Banyak digunakan untuk mebel-mebel bergaya Eropa karena dari sifatnya yang mudah diukir dan dibentuk. Kayu jenis kayu termasuk ke dalam kayu yang tidak terlalu berat.
5.
Kayu jelutung (Dyera costulata)
Kayu ini biasa disebut kayu "meh" (Jawa), berwarna putih dan putih kekuningan dengan serat kayu lurus dan sedikit lunak, tetapi kekuatannya tidak mudah untuk dipatahkan. Kayu ini cenderung digunakan untuk pembuatan mebel lemari. Tumbuh di daerah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Palembang, Bangka, Jambi, Kalimantan, dan Jawa.
6.
Kayu ebony (Diospyros spp)
Memiliki serat yang lembut, lurus, dan sangat keras. Di Bali, kayu ini banyak digunakan untuk inlay dan craft untuk patung-patung yang berukuran kecil. Pada dasarnya, kayu ini tidak mudah untuk dibentuk, sehingga jarang digunakan untuk mebel yang meliuk.
7.
Kayu cendana (Santalun album)
Kayu cendana mudah untuk dibentuk. Warnanya cerah kekuningan dan putih dengan serat lurus berwarna cokelat. Pohon ini tumbuh di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur.
8.
Kayu ulin (.Eusideroxylon)
Kayu ulin memiliki sifat yang mudah retak dan biasa digunakan untuk pembuatan mebel. Biasanya digunakan bukan sebagai bahan utama, tetapi sebagai bahan tambahan.
9.
Kayu sawo kecik
Seratnya sangat halus, warna cokelat kemerahan hingga berwarna cokelat tua.
10.
Kayu nangka
Seratnya banyak, berbintik putih karena banyak mengandung zat kapur. Warna kuning mengarah kecokelatan. Termasuk jenis kayu ringan dan biasa digunakan untuk mebel.
11.
Kayu renggas
Kayu ini seperti kayu nangka dengan serat lebih besar dan lebih berbobot. Kelebihan lainnya adalah kayunya lebih mengilap.
Namun, kebanyakan kayu yang sering dipergunakan untuk karya seni ukir adalah kayu mahoni dan kayu jati dengan alasan bahan yang mudah ditemukan, mudah dibentuk, mudah diukir, secara struktural sangat kuat, dan seratnya indah.
Readmore → Ragam Hias dari Bahan Kayu